Postingan

Kucing?

       Ujian akhir semester sudah semakin dekat. Semua siswa sedang berusaha mati-matian untuk mendapat nilai maksimal di ujiannya. Ya walaupun, mungkin tidak semua. Dan aku tergolong manusia manuia ambis yang mempersiapkan diri sebelum ujian, jadi hari ini aku dan temanku, Sela, berencana untuk belajar bersama dirumahnya. Sela sedang ditinggal sendirian oleh ayah dan ibunya untuk mlakukan perjalaan bisnis, an karena I anak tunggal jadi dia berada di rumah sendirian.      Setelah sampai di rumah Sela, kami tidak langsung membuka buku. Kami beristirahat sejenak karena perjalanan dari sekolah ke rumahnya cukup memakan energiku. Sela menyalakan TVnya dan kami duduk di ruang tengah. “Aku lapar, kamu lapar juga tidak?” tanya Sela. “Sejujurnya perutku Sudah brbunyi sesaat masuk rumah” jawabku sambil memeangi perut. “Kamu mau pesan atau kita masak mi saja?” tanya Sela lagi. “Kita buat mi saja, hitung hitung hemat pengeluaran. Biar aku yang masak.” Sela mengan...

Corvus

          Dulu saat aku berusia 12 tahun, seekor burung gagak hinggap di teras rumahku. Kata ayahku mungkin dia tersesat.. Karena ayahku seorang pencinta burung, akhirnya ia menangkap burung gagak itu dan berencana menaruhnya di sangkar. Setelah usaha yang cukup menghabiskan tenaga, ditaruhlah gagak itu di sangkar dan digantung dekat dengan jendela kamarku. Sejak hari itu aku terkadang menghabiskan waktuku dengan bercerita semua keluh kesahku pada si gagak.           Musim demi musim berganti. Begitu juga dengan tahun. Kini aku sudah berumur 20 tahun, dan tentu saja tidak ada hari tanpa masalah. Tapi disamping masalah itu ada hal lain yang lebih besar.           Masalah pertama. Kakak tertuaku yang selalu mengomel. Semua hal ia permasalahkan. Bahkan hal hal sepele sekalipun. Sesepele tutup botol air minum yang kurang rapat, uang receh yang tidak disendirikan sesuai nilai uangnya, tali sepatu yang p...

Mahen

  Mahen  dengan jas coklat gelapnya melajukan mobil yang dikendarainya sambil sesekali melirik spion dalam lalu tersenyum. Ta k lama kemudian S edan V olvo 1997 kebanggaannya itu berhenti di tepian jalan layang. P ria itu keluar dengan langkah berat, badan jangkungnya bersandar pada beton pembatas. P andangannya tertuju pada kendaraan lain yang ramai berlalu lalang di bawahnya, hembusan nafas besar lolos saat ia memainkan cincin pernikahan di jari manisnya.   “ B ukankah acara tadi cukup menyenangkan?”  Ucap seorang wanita disampingnya.   Mahen hanya menggeleng sebagai jawaban, pikirannya berputar pada pertanyaan pertanyaan kerabatnya tentang bagaimana Mahen tak pernah berbicara tentang istrinya.   “ K au adalah belahan jiwaku, seluruh hidupku, bagaimana bisa aku membicarakanmu?”  Ujar Mahen.   “ B egitukah? S enang mendengarnya.”   Dilihatnya Mahen belum juga berhenti memutar-mutar cincin itu. “ A pa kau akan membuangnya? melemparnya ke bawa...

Cerita Terakhir Malam Itu

  ppang!   Nyaringnya tong sampah ketika dihantam kencang oleh kaleng minuman Dikta yang sedang dilanda amarah.   “ Ke napa kau tidak pernah mendengar penjelasanku ? ” D engan langkah lebar ia menyusuri jalanan malam kota yang sunyi  dan bermonolog dengan udara malam.   “ D an kenapa kau harus menangis di depanku, oh  Maria? .” L agi lagi ia menggerutu  sendiri , kali ini matanya mengamati gedung gedung tinggi di sepanjang trotoar yang ia lewati, agak merasa bersalah jika saja suaranya mengganggu orang orang yang sedang beristirahat.   Dikta sedikit memutar badannya ke belakang, dahinya mengerut ketika tak satupun kendaraan atau pejalan kaki lain ia temui di jalanan yang lumayan lebar ini. Dikta meneruskan langkah sambil berusaha meredakan amarah, mencoba berteman dengan dinginnya angin malam. B eberapa langkah kemudian netranya menangkap siluet seorang pria yang tengah duduk di bangku trotoar. S isi wajahnya terpapar kedipan lampu lalu lintas ber...

Tidur Manis

“Ini sudah keberapa kalinya, Daniel?” Saat ini aku tidak bisa lagi menahan amarah. “Sudah berapa kali? Jawab!” Kukeraskan lagi suaraku karena lelaki satu di depanku ini tidak mau buku suara. “Maafkan aku…” Lirihnya. “Aku tidak memintamu untuk minta maaf. Jawab pertanyaanku apa susahnya sih?” Suaraku semakin meninggi. “Aku…maaf.. Aku, tidak akan mengulanginya lagi.” Jawabnya masih berikeras memohon maaf. “Sekali lagi, aku tidak butuh permintaan maafmu. Jawab sekarang atau kau pergi dari sini!” Ia mulai memohon sambil menekuk lutut. Memegangi kakiku, meminta belas kasihan. “Tidak, aku tidak mau pergi. Tolong maafkan aku. Sungguh ini akan jadi yang terakhir kalinya”. Ia semakin mengeratkan pegangannya pada kakiku. “Kau sudah mengatakan hal itu berpuluh-puluh kali. Tidakkah mulutmu bosan mengeluarkan omong kosong itu?” Laki laki ini benar benar menguji semua emosiku. “Sekarang jawab pertanyaanku sebelum semua terlambat.” “Maaf...maaf..maaf…” Lirihnya berulang ulang kali. Sialan. Suaranya m...

Sang Mimpi

            Sepertinya sudah seperti tradisi, apabila kita mengunjungi sebuah tempat wisata kita harus membeli oleh oleh. Baik untuk diri sendiri atau orang orang terdekat. Dan ya “tradisi” itu terjadi juga kepadaku. Sebelum pulang dari perjalanan liburan ini aku dan temanku menyempatkan diri untuk pergi ke pusat oleh oleh lokal. Di sana kami belanja cemilan, kain lokal, kaos, dan masih banyak lagi. “Oh ini! Eva coba lihat ini!” ujar temanku dari salah satu bilik. “Apa itu? Hiasan?” tanyaku sambil menghampiri posisinya. “Kamu tidak tau ini? Dreamcatcher Eva”. Dia mengangkat salah satu benda itu. “Iya, hiasan dinding kan?” “Ck, kamu ini. Dreamcathcer, penangkap mimpi. Jadi benda ini bisa menangkal mimpi mimpi burukmu kalau kamu pasang di atas ranjang” jelasnya. “Yang benar saja. Tidak usah percaya hal hal seperti itu” jawabku. “Ayo beli satu saja, jika kamu tidak percaya juga tidak apa apa. Jadikan sebagai hiasan saja, lagipula warna ini cocok dengan te...

Bertatap

          Apakah kalian pernah merasa gelisah saat tidur? Kurasa itu yang saat ini terjadi padaku. Sisi bantal dingin dan kasur empuk tidak cukup membuatku merasa nyaman. Pendingin ruangan padahal sudah diatur sesuai dengan yang biasa aku gunakan. Gelisah semakin terasa, jadi aku beranjak ke dapur untuk mengambil segelas susu. Lampu dapur tentu sudah mati. Ya, tentu saja karena ini sudah lewat jam 11 malam. Lagipula kita harus hemat biaya listrik ketika tinggal di kos sendirian kan. Setelah susu kutuangkan ke gelas, aku kembali ke kasur untuk meminumnya. Tolong jangan contoh perilaku ini ya. Bahkan kata Almarhum mamaku, tidak baik makan atau minum di kasur. Pamali. Tapi bagaimana lagi, aku tidak mau minum di dapur yang gelap itu. Glek..Glek..Glek. Segelas susu itu habis kuminum. “Ah kukembalikan besok saja. Tidak mungkin gelas ini akan dirubung semut.” Ucapku. Kutaruh gelas bekasitu di nakas sebelah ranjangku. Masih gelisah. Apa yang aneh malam ini? Astag...