Tidur Manis

“Ini sudah keberapa kalinya, Daniel?” Saat ini aku tidak bisa lagi menahan amarah. “Sudah berapa kali? Jawab!” Kukeraskan lagi suaraku karena lelaki satu di depanku ini tidak mau buku suara.

“Maafkan aku…” Lirihnya.

“Aku tidak memintamu untuk minta maaf. Jawab pertanyaanku apa susahnya sih?” Suaraku semakin meninggi.

“Aku…maaf.. Aku, tidak akan mengulanginya lagi.” Jawabnya masih berikeras memohon maaf.

“Sekali lagi, aku tidak butuh permintaan maafmu. Jawab sekarang atau kau pergi dari sini!” Ia mulai memohon sambil menekuk lutut. Memegangi kakiku, meminta belas kasihan.

“Tidak, aku tidak mau pergi. Tolong maafkan aku. Sungguh ini akan jadi yang terakhir kalinya”. Ia semakin mengeratkan pegangannya pada kakiku.

“Kau sudah mengatakan hal itu berpuluh-puluh kali. Tidakkah mulutmu bosan mengeluarkan omong kosong itu?” Laki laki ini benar benar menguji semua emosiku. “Sekarang jawab pertanyaanku sebelum semua terlambat.”

“Maaf...maaf..maaf…” Lirihnya berulang ulang kali.

Sialan.

Suaranya makin lama makin mengecil, meringkih. Akhirnya suara itu berhenti, entah di permohonan maaf keberapa aku bahkan sudah tidak bisa mengitung.

“Kenapa diam? Kau fikir sudah kumaafkan?” Bentakku lagi.

“Jawab aku tidak sedang berbicara dengan diriku sendiri!” Masih dengan bentakanku.

“Daniel?” Monologku.

“Oh, ternyata kau sudah tertidur. Sepertinya hal ini cukup melelahkan bagimu. Tidur manis sayangku.”

Sepertinya lebih baik aku saja yang pergi. Tentu tidak lupa aku menarik pisau yang kutusukkan ke dadanya. Pria yang malang.

 

Komentar

Posting Komentar