Sang Mimpi
Sepertinya sudah seperti tradisi, apabila kita mengunjungi sebuah tempat wisata kita harus membeli oleh oleh. Baik untuk diri sendiri atau orang orang terdekat. Dan ya “tradisi” itu terjadi juga kepadaku. Sebelum pulang dari perjalanan liburan ini aku dan temanku menyempatkan diri untuk pergi ke pusat oleh oleh lokal. Di sana kami belanja cemilan, kain lokal, kaos, dan masih banyak lagi.
“Oh ini! Eva coba lihat ini!” ujar temanku dari salah satu bilik.
“Apa itu? Hiasan?” tanyaku sambil menghampiri posisinya.
“Kamu tidak tau ini? Dreamcatcher Eva”. Dia mengangkat salah satu benda itu.
“Iya, hiasan dinding kan?”
“Ck, kamu ini. Dreamcathcer, penangkap mimpi. Jadi benda ini bisa menangkal mimpi mimpi burukmu kalau kamu pasang di atas ranjang” jelasnya.
“Yang benar saja. Tidak usah percaya hal hal seperti itu” jawabku.
“Ayo beli satu saja, jika kamu tidak percaya juga tidak apa apa. Jadikan sebagai hiasan saja, lagipula warna ini cocok dengan tema kamarmu kan?” Dia terus memaksaku dengan menunjukkan salah satu yang berwarna putih.
“Ada apa dengan semua paksaan ini. Baik aku beli satu” Aku sudah tahu betul sifatnya, ia tidak akan berhenti meminta sebelum dipenuhi kemauannya. Jadi aku beli saja. Toh, benar juga warnanya cocok dengan tema kamarku.
Singkat cerita, selesai membeli sejumlah oleh oleh, kami pulang ke rumah masing masing. Aku menyimpan semua baju bawaan ke lemari, membawa semua pakaian kotor ke mesin cuci untuk kucuci nanti bila rasa penatku sudah hilang. Aku tinggal sendiri jadi tidak ada mengawasi atau membereskan rumah selagi aku pergi. Walaupun lelah aku tetap mencicil beberapa pekerjaan beberes rumah. Menyapu, mengelap dan mengepel lantai. Setelah selesai beres beres aku membuka kantong belanja berisi oleh oleh untuk melihat camilan apa yang bisa dimakan sembari beristirahat sejenak. Namun benda teratas langsung membuatku memusatkan pandangan. Dreamcatcher. Kebetulan dinding di atas ranjangku ada paku yang menancap. Aku pasangkan benda itu, dan ya itu terlihat tidak terlalu buruk. Tentu saja aku masih tidak percaya dengan fungsi benda ini, untuk apa percaya hal hal itu. Karena tubuhku sudah menyentuh kasur, rasanya mengantuk sekali. Aku akan tidur siang sebentar.
DEG.
Aku terbangun. Ini sudah malam ternyata. Sepertinya tidur siang ‘sebentar’ hanyalah mitos. Aku ingin beranjak dari kasur namun tubuhku tidak bisa bergerak. Aku bAhkan tidak bisa menggerakkan jari kelingkingku. Ini kenapa?
Krek…
Krek…
Krek..
Suara seperti pintu yang dicakar hewan. Aku tidak punya hewan peliharaan, lantas apa itu? Tidak mungkin angin bisa membuat suara itu. Ada suara langkah kaki mendekat! Tidak terdengar seperti manusia. Semakin dekat. Semakin dekat. Satu langkah lagi ke posisi ranjangku. Kini ia sepertinya sudah ada tepat di depan ranjangku. Tubuhku masih tidak bisa digerakkan. Bahkan suaraku tidak bisa keluar. Tolong.
Terdengar raungan dari ‘si makhluk’ itu. Apakah dia sedang bersiap melompat?
“Oh jangan. Tuhan tolong jangan!” teriakku dalam hati. Aku masih berusaha bergerak namun tetap tidak bisa. Tolong jangan melompat kesini.
Terlambat. Makhluk itu sudah berada tepat 1 cm di depan jari kakiku. Rupanya tidak karuan, seperti anjing dengan bulu lebat tak terurus dan taring panjang yang hampir merobek sprei kasurku. Matanya putih kosong. Besarnya tidak seperti anjing pada umumnya. MAKHLUK APA INI?. Ia tampaknya sedang menatapku. Berjalan ke arahku. Perlahan dengan tatapannya yang tertuju hanya pada mataku. Ia sampai di samping lengan kiriku. Dengan tiba tiba ia mencakar lenganku dan melompat ke arah dreamcatcher. Ia melahap habis semua bulu bulu menjuntai yang ada. SUNGGUH MAKHLUK APA INI?. Habis semua bulu bulu itu dikoyaknya. Ia menjatuhkan diri ke kasurku kembali. Menatapku sejenak yang mengerang kesakitan karena cakarannya dan berlari ke bawah kasurku. Aku masih berusaha bergerak. Aku eratkan pejaman mata sambil berusaha keras.
DEG
Aku terbangun. Lagi? Jadi itu tadi cuma mimpi. Tidak mungkin terasa senyata itu.Kulihat lenganku, dan benar saja di lenganku membekas 3 cakaran yang cukup mengeluarkan darah. Namun bukan lengan kiriku, namun di lengan kanan. Aku menampar diriku sendiri mencoba terbangun lagi apabila ini masih mimpi. Sakit. Berarti ini bukan mimpi. Kutolehkan pandanganku ke Dreamcatcher. Ya, semua bulunya hilang. Persis dengan yang terjadi di ‘Mimpiku’, habis dilahap Sang Mimpi Buruk.
aaa takut dee
BalasHapusTakut bangettt
BalasHapusJangan lupa doa sblm tidur kwkwk:"D
BalasHapustbl tbl😱😱😱
BalasHapusberdoa dulu kk
BalasHapusseremmm
BalasHapussumpa kereeeen
BalasHapusTakut banget lochhhhhhh (n)
BalasHapusHaduhh aku punya dreamcathcer lagi
BalasHapus