Corvus

        Dulu saat aku berusia 12 tahun, seekor burung gagak hinggap di teras rumahku. Kata ayahku mungkin dia tersesat.. Karena ayahku seorang pencinta burung, akhirnya ia menangkap burung gagak itu dan berencana menaruhnya di sangkar. Setelah usaha yang cukup menghabiskan tenaga, ditaruhlah gagak itu di sangkar dan digantung dekat dengan jendela kamarku. Sejak hari itu aku terkadang menghabiskan waktuku dengan bercerita semua keluh kesahku pada si gagak.

        Musim demi musim berganti. Begitu juga dengan tahun. Kini aku sudah berumur 20 tahun, dan tentu saja tidak ada hari tanpa masalah. Tapi disamping masalah itu ada hal lain yang lebih besar.

        Masalah pertama. Kakak tertuaku yang selalu mengomel. Semua hal ia permasalahkan. Bahkan hal hal sepele sekalipun. Sesepele tutup botol air minum yang kurang rapat, uang receh yang tidak disendirikan sesuai nilai uangnya, tali sepatu yang panjang sebelah, bahkan pilihan mode pakaianku yang ia anggap aneh. Omelannya selalu menghiasi udara rumah. Tidak bisakah dia mengunci mulutnya sebentar saja. Ketika ia sudah mengomel, aku langsung masuk ke kamarku guna menghindari keributan besar lainnya. Hal ini terus terjadi. Sampai suatu waktu, aku dan kakak berdebat besar karena ia terus mengomel. Aku pergi ke kamarku untuk mendiamkannya, namun mulutnya tidak pernah berhenti berucap. Ketika aku sampai d kamar, kulihat sangkar burung gagak itu kosong, namun bergerak-gerak seolah ada yang mau keluar. Disaat yang sama, suara kakakku pun berhenti. “Aneh.” Pikirku. Ini sudah 10 menit kenapa ia langsung diam? Tidak seperti kakak yang biasanya. Aku pergi ke ruang tengah untuk melihat kakak. Namun sayang, ketika sampai disana kakak sudah tidak lagi berkutik. Ia terkapar dengan mulut penuh jerami, seperti disedak dengan segenggam jerami sampai tidak bisa bernafas. Aku segera mencari kedua orang tuaku dan bercerita apa yang terjadi.

        Masalah kedua terjadi tepat pada saat pemakaman kakakku. Saat itu pacarku juga datang ke acara pemakaman. Ia tampak sangat kehilangan juga. Aku mencoba menenangkannya dengan membawakan segelas air. Saat mau memberikan gelas itu padanya ia malah menampisnya. Aku terdiam karena bingung.

“Kamu kenapa?” Tanyaku heran

“Kau tidak lihat aku sedang bersedih? Kenapa tiba tiba kau sodorkan minuman itu kepadaku?” ucapnya dengan nada tinggi.

“Kenapa kamu kasar? Aku memberikan kamu minum agar kamu lebih tenang. Lagipula mengapa disini kamu yang merasa paling kehilangan?” tanyaku lagi. Gelagatnya memang aneh.

“Kenapa kau tanya? Baik aku ungkapkan semua. Dari awal aku mendekatimu agar bisa lebih dekat dengan kakakmu, dan benar saja aku jadi dekat dengannya. Namun dengan bodohnya kau jatuh hati padaku. Aku terpaksa menembakmu juga gara gara kakakmu agar kami tidak ketahua…” belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, aku menamparnya. Sialan. Aku lempar gelas itu ke arahnya dan berlari ke rumah dengan menangis. Teganya mereka berdua.

        Tiga hari kemudian. Aku mendapat kabar buruk. Pacarku ditemukan tewas dengan keadaan sama persis dengan kakakku. Mulutnya penuh dengan jerami. Hal hal seperti ini semakin sering terjadi. Dengan keadaan yang sama, orang orang yang memiliki masalah denganku akan tewas dengan keadaan yang sama dengan gagak berada disekitarnya. Kami semua mulai menyadari ini semacam kutukan yang dibawa gagak itu. Tunggu dulu, ‘kami semua’? Ah tidak, ‘mereka semua’ mulai menyadari kutukan ini. Tentu saja aku sudah tahu dari lama.

Komentar

Posting Komentar