Mahen
Mahen dengan jas coklat gelapnya melajukan mobil yang dikendarainya sambil sesekali melirik spion dalam lalu tersenyum. Tak lama kemudian Sedan Volvo 1997 kebanggaannya itu berhenti di tepian jalan layang. Pria itu keluar dengan langkah berat, badan jangkungnya bersandar pada beton pembatas. Pandangannya tertuju pada kendaraan lain yang ramai berlalu lalang di bawahnya, hembusan nafas besar lolos saat ia memainkan cincin pernikahan di jari manisnya.
“Bukankah acara tadi cukup menyenangkan?” Ucap seorang wanita disampingnya.
Mahen hanya menggeleng sebagai jawaban, pikirannya berputar pada pertanyaan pertanyaan kerabatnya tentang bagaimana Mahen tak pernah berbicara tentang istrinya.
“Kau adalah belahan jiwaku, seluruh hidupku, bagaimana bisa aku membicarakanmu?” Ujar Mahen.
“Begitukah? Senang mendengarnya.”
Dilihatnya Mahen belum juga berhenti memutar-mutar cincin itu.
“Apa kau akan membuangnya? melemparnya ke bawah sana lalu dengan bodohnya meloncat untuk mengambilnya lagi?”
“Kau yang bodoh, aku takkan pernah melepasnya.” Jawab Mahen dengan nada sedikit marah.
Mahen membalikkan badannya, menatap lama wajah sang istri tanpa ada keinginan untuk menyentuhnya sedikit saja.
“Berkendara denganmu selalu menjadi ide buruk, jangan ikuti aku.” Dengan cepat Mahen kembali masuk ke dalam mobilnya dan menutup pintunya dengan kasar.
“Kau akan meninggalkanku disini? Hey!”
Kendaraannya melesat begitu saja seolah tak mendengar apapun, ibu jari mengusap air mata di ujung matanya, lagi lagi pertanyaan salah satu kerabatnya berputar bagaikan kaset rusak di otaknya
“Bahkan kau tidak pernah membicarakan istrimu lagi setelah kematiannya, kenapa?”
waaah😱😱😱
BalasHapuswaaaa
Hapuskeren alurnyaa
BalasHapusterima kasiiih
HapusKereenn
BalasHapusciee mahen
BalasHapusbagusss👍
BalasHapusWiiiii����
BalasHapus