Kucing?
Ujian akhir semester sudah semakin dekat. Semua siswa sedang berusaha mati-matian untuk mendapat nilai maksimal di ujiannya. Ya walaupun, mungkin tidak semua. Dan aku tergolong manusia manuia ambis yang mempersiapkan diri sebelum ujian, jadi hari ini aku dan temanku, Sela, berencana untuk belajar bersama dirumahnya. Sela sedang ditinggal sendirian oleh ayah dan ibunya untuk mlakukan perjalaan bisnis, an karena I anak tunggal jadi dia berada di rumah sendirian.
Setelah sampai di rumah Sela, kami tidak langsung membuka buku. Kami beristirahat sejenak karena perjalanan dari sekolah ke rumahnya cukup memakan energiku. Sela menyalakan TVnya dan kami duduk di ruang tengah.
“Aku lapar, kamu lapar juga tidak?” tanya Sela.
“Sejujurnya perutku Sudah brbunyi sesaat masuk rumah” jawabku sambil memeangi perut.
“Kamu mau pesan atau kita masak mi saja?” tanya Sela lagi.
“Kita buat mi saja, hitung hitung hemat pengeluaran. Biar aku yang masak.” Sela mengangguk tanda setuju.
Aku memang sudah sering ke rumah ini, itulah mengapa Sela membiarkanku memakai dapurnya. Aku segera branjak dari ruang tengah ke dapur. Mengambil dua bungkus mi instan dan mebawanya ke dekat kompor. Saat aku mengambil panci untuk memasak, terdengar suara rusuh dari belakangku. Seperti suara seekor kucing yang berlarian. Aku menghiraukannya dan lanjut mengambil air. Sertinya kucng itu sedang mencai atensiku, ia bererak cepat sambil menabrakkan dirinya ke kakiku. Aku menoleh ke bawah dan dia tidak ada. Hihihi, usil sekali.
“Sela, kucingmu menggangguku.” Ujarku.
“Kucing? Aku tidak punya kucing.” Jawab Sela Sedikit berteriak dari ruag tengah.
“Ha ha ha, kau dan kucingmu sama sama suka bercanda sepertinya.”
“Hah? Sungguh aku tidak punya. Ibuku alergi bulu kucing, jadi tidak mungkin kami punya kucing di rumah ini. Mungkin itu kecoa.” Bantah Sela. Aneh. Tidak mungkin kecoa membuat suara serusuh itu.
Suara itu terdengar lagi. Aku yakin benar itu kucing. Atau mungkin ada kucing liar yang masuk? Aku mendekati sumber suara. Dan jantungku rasanya berhenti sejenak. Aku menaruh panci itu di meja dan langsung lari ke ruang tengah.
“Sela, kita pesan makanan saja” Ujarku dengan gemetar.
“Kamu kenapa? Baiklah kita pesan makanan saja.” Sela mengeluarkan telepon genggamnya dan hendak memesan makanan. Dengan aku yang masih gemetar dan tidak bisa berfikir jernih. Bagaimana bisa aku berfikir jernih setelah melihat sepasang kaki manusia berlarian tanpa awak?
baguuus
BalasHapusterima kasii
HapusNGERIIII
BalasHapus😱😱
HapusWoooooooo����
BalasHapusUntung punya kucing beneran dirumah:((
BalasHapusmemeng
BalasHapusAduh jadi takut mau ke kamar mandi
BalasHapusAduh jadi takut mau ke kamar mandi (n)
BalasHapustakutttttt
BalasHapusngeri ngerong
BalasHapusmakasi ya kak, saya makin jadi penakut💖
BalasHapus