Cerita Terakhir Malam Itu
ppang!
Nyaringnya tong sampah ketika dihantam kencang oleh kaleng minuman Dikta yang sedang dilanda amarah.
“Kenapa kau tidak pernah mendengar penjelasanku?” Dengan langkah lebar ia menyusuri jalanan malam kota yang sunyi dan bermonolog dengan udara malam.
“Dan kenapa kau harus menangis di depanku, oh Maria?.” Lagi lagi ia menggerutu sendiri, kali ini matanya mengamati gedung gedung tinggi di sepanjang trotoar yang ia lewati, agak merasa bersalah jika saja suaranya mengganggu orang orang yang sedang beristirahat.
Dikta sedikit memutar badannya ke belakang, dahinya mengerut ketika tak satupun kendaraan atau pejalan kaki lain ia temui di jalanan yang lumayan lebar ini. Dikta meneruskan langkah sambil berusaha meredakan amarah, mencoba berteman dengan dinginnya angin malam. Beberapa langkah kemudian netranya menangkap siluet seorang pria yang tengah duduk di bangku trotoar. Sisi wajahnya terpapar kedipan lampu lalu lintas berwarna oranye.
Dikta melangkahkan kakinya tanpa ragu, hatinya sedikit lega melihat adanya manusia lain yang mungkin bisa ia ajak bicara. ia perhatikan lagi wajah pria itu, hidungnya yang runcing, kulitnya yang halus, bibir yang tak menunjukkan sedikitpun senyuman, sorot mata tajam yang tengah menatap kosong jalanan di depannya. Dikta berdehem membersihkan tenggorokannya dan bersiap mengeraskan suaranya.
“Boleh aku duduk disini?”
Pria itu sedikit terperanjat, kepalanya mendongak menatap soonyoung membuat beberapa rambut poninya jatuh ke samping. Mata mereka bertemu, Dikta yakin ia telah memberikan senyum terbaiknya tatkala pria itu tak juga membalas ucapannya.
“Tolong izinkan saja, aku sedang patah hati.” ucapnya tak sabar
Tak ingin menunggu lebih lama Dikta mendudukkan tubuhnya dengan segera, wajahnya berkerut ketika dinginnya bangku besi seolah menembus celana jeans yang ia kenakan. Pria tadi sedikit menjauhkan tubuhnya, tak ingin duduk berdekatan dengan Dikta.
“Jadi-”
“Pelankan suaramu.”
Dikta menatapnya, ia kagum ternyata pria itu bisa bicara. Yang ditatap hanya meliriknya tak suka. Namun Dikta membenci yang namanya suasana canggung, jadi ia mulai menarik nafas bersiap untuk berbicara banyak hal. Bahkan ia mulai menghadapkan tubuhnya kepada ‘teman’ barunya itu, mulai dari siapa namanya hingga alasan kenapa ia bisa ada disini, Dikta seperti tidak berhenti bicara.
“Sekarang giliranmu, ayo ceritakan tentang dirimu.”
“Angga.” ucap pria itu berbisik
“Itu namamu?” Dikta mencondongkan badannya dan dibalas anggukan kecil
“Lalu kenapa kau ada disini sendiran?”
“Hanya.. aku suka disini.” Angga tersenyum kecil pada Dikta membuatnya sempat tak berkutik, ada jeda diantara mereka.
“Aku harap kau segera berbaikan dengan kekasihmu, Dikta.”
“Kau juga, cepatlah pulang.” Jawab Dikta dingin, semakin lama ia menatap Anggasemakin ia menyadari sesuatu.
“Aku akan pulang, lalu minum teh dan berpelukan dengan keluargaku. Oh, kau boleh berkunjung dengan boneka harimau yang tadi kau ceritakan, putriku akan menyukainya.” Ia tersenyum makin lebar ke arah jalanan.
Dikta tak membalasnya yang tiba tiba saja bercerita panjang seperti itu. Angin dingin menerpa kaki Dikta, ia menegakkan tubuhnya dan menatap Angga tajam.
“Kau mati disini?”
“Aku tidak menyangka kau se-mengenaskan itu.” Lanjut Dikta dengan senyum miring.
tes
Dikta menelan ludahnya melihat cairan merah menetes dari bangku tempat lawan bicaranya berada. Ia dapat mendengar nafas berat Angga, tanpa sepatah kata apapun ia menolehkan wajahnya perlahan, menatap Dikta penuh amarah dengan bola mata yang memerah. itu adalah ingatan terakhir Dikta sebelum pandangannya berubah gelap.
HEH YA ALLAH ANGGA. SEREM PLIS AKU PUNYA TEMEN ANGGA
BalasHapustiati 😭
HapusIH SEREEM 😱😱😱
BalasHapustakut takut takut
HapusSEREM TAPI KEREEEENNN
BalasHapusaaa terima kasiih
Hapusalig alig
BalasHapusaduhhh
BalasHapus