Bertatap

        Apakah kalian pernah merasa gelisah saat tidur? Kurasa itu yang saat ini terjadi padaku. Sisi bantal dingin dan kasur empuk tidak cukup membuatku merasa nyaman. Pendingin ruangan padahal sudah diatur sesuai dengan yang biasa aku gunakan. Gelisah semakin terasa, jadi aku beranjak ke dapur untuk mengambil segelas susu. Lampu dapur tentu sudah mati. Ya, tentu saja karena ini sudah lewat jam 11 malam. Lagipula kita harus hemat biaya listrik ketika tinggal di kos sendirian kan. Setelah susu kutuangkan ke gelas, aku kembali ke kasur untuk meminumnya. Tolong jangan contoh perilaku ini ya. Bahkan kata Almarhum mamaku, tidak baik makan atau minum di kasur. Pamali. Tapi bagaimana lagi, aku tidak mau minum di dapur yang gelap itu. Glek..Glek..Glek. Segelas susu itu habis kuminum.

“Ah kukembalikan besok saja. Tidak mungkin gelas ini akan dirubung semut.” Ucapku. Kutaruh gelas bekasitu di nakas sebelah ranjangku.

Masih gelisah. Apa yang aneh malam ini? Astaga, besok aku harus sekolah. Kalau aku tidak bisa tidur sekarang, bisa bisa aku terlambat besok.

”Apa cari angin luar saja ya. Siapa tau aku akan mengantuk.” Kubuka satu satunya jendela yang ada di kamar kosku. Angin malam ini cukup dingin, berangin tapi tidak terlalu kencang. Aku menikmati suasana itu sekitar 10 menit, sebelum bunyi barang pecah mengagetkanku. Setelah aku cek, barang itu adalah gelas susu yang tadi kuminum. Aneh. MAlam ini memang berangin, tapi tidak cukup kuat untuk menggeser atau menjatuhkan sebuah gelas kaca.

“Atau mungkin aku menaruhnya terlalu menepi?” Tidak. Aku yakin menaruhnya cukup aman di tengah. Oke cukup. Malam ini aneh. Kututup jendela kamar itu dan bergegas ke dapur untuk mengambil sapu guna membersihkan pecahan gelas.

“Aku harus cepat cepat membersihkan pecahan ini dan langsung tidur. Malam ini aneh!” Cahaya redup bulan memantul di pecahan gelas itu. Di langit langit kamarku. Dua pijar merah. Menatap. Benda apa itu, atau makhluk apa itu. Tentu aku tidak berani menolehkan kepala ke atas. Aku diam membeku. Hatiku berkata jangan menoleh ke atas, namun kepalaku bergerak sendirinya. Itu bukan lampu. Tapi mata. Sosok yang menempel di langit langit. Ketakutan tentu, keringat dinginku mengalir. Walau begitu, pikiran jernihku mencerna bentuk sosok itu.Tampak tidak asing. Apakah…

“Mama? Mama marah?” ucapku lirih.

Ia berhenti menatap. Aku mengedipkan mataku karena tak percaya.

Hilang.

Dia hilang. Begitu pula akal sehatku.


Komentar

Posting Komentar